
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan biasanya identik dengan lantunan sholawat, pengajian, pawai, hingga berbagai tradisi masyarakat. Namun, perayaan di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada September 2026 justru mendadak menjadi sorotan. Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) yang merupakan bagian dari rangkaian Maulid Nabi dan khitanan massal ke-61 menampilkan pertunjukan dengan kostum menyeramkan, peti mati, hingga adegan penyembelihan kambing. Video penampilan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memancing berbagai komentar.
Yang membuat suasana semakin “panas”, sejumlah warganet menilai penampilan tersebut mirip dengan ritual satanik. Dalam video yang beredar, terlihat peserta menggunakan kostum menyerupai sosok tengkorak dan karakter menyeramkan. Ada pula properti yang dianggap menyerupai simbol tertentu yang berkaitan dengan okultisme. Tak heran jika muncul pertanyaan besar: kok bisa pertunjukan seperti itu muncul dalam acara yang berkaitan dengan Maulid Nabi? Bahkan MUI ikut menyoroti penampilan tersebut dan menilai visual maupun aksi yang dianggap menyerupai ritual satanik bertentangan dengan nilai-nilai peringatan Maulid.
Nah, bagian yang cukup bikin publik penasaran justru datang dari balik panggung. Perwakilan peserta, M Akhid dari Tim Simone atau Simbang Gang One, mengaku konsep tersebut bukan dimaksudkan sebagai ritual satanik. Ia mengatakan ide pertunjukan berasal dari kostum dan pertunjukan yang mereka lihat di YouTube. Kostum bahkan disebut disewa dari Malang dan kemudian digunakan sebagai bagian dari koreografi. Peserta mengaku tidak memahami konteks simbol yang digunakan dan akhirnya menyampaikan permintaan maaf karena merasa kurang literasi.
Panitia SKNC juga menyatakan tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan tersebut sebelum tampil. Ketua panitia Mahsun membantah adanya ritual atau pemujaan dan menyebut atraksi tersebut sebagai hiburan warga. Bahkan soal kambing yang disembelih, panitia memberikan penjelasan bahwa hewan tersebut bukan tumbal, melainkan untuk konsumsi bersama setelah acara. Meski begitu, penampilan tersebut tetap menjadi “bumbu panas” yang membuat Maulid Nabi di Simbang Kulon ramai diperbincangkan jauh di luar Pekalongan.
Terlepas dari kontroversinya, Maulid Nabi di Pekalongan memang memiliki tradisi budaya yang cukup kuat. Selain karnaval, masyarakat di wilayah tersebut telah lama menggabungkan peringatan keagamaan dengan kegiatan sosial dan budaya. Di Simbang Kulon sendiri, karnaval tahun 2026 diikuti 25 barisan yang berasal dari 25 musala dengan tema “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran” atau bersatu dalam budaya dan memperkuat persaudaraan. Jadi, yang awalnya dimaksudkan sebagai hiburan dan pelestarian tradisi justru berubah menjadi perbincangan panas gara-gara satu penampilan yang dianggap terlalu ekstrem.
0 Comments