
BANYUWANGI – Ada pemandangan berbeda bagi penumpang pesawat Super Air Jet rute Banyuwangi–Jakarta–Banyuwangi. Para pramugari tampil mengenakan aksesori khas Tari Gandrung, lengkap dengan omprog atau mahkota dan selendang merah. Bukan sekadar penampilan unik, cara ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Penampilan tersebut merupakan bagian dari semarak Festival Gandrung Sewu 2026. Sejak 22 hingga 25 Oktober 2026, nuansa kesenian tradisional dihadirkan untuk menyambut para penumpang. Para pramugari tidak hanya menyapa penumpang ketika memasuki pesawat, tetapi juga mengenakan atribut Gandrung saat memperagakan demonstrasi keselamatan penerbangan. Dengan demikian, unsur budaya lokal hadir di tengah aktivitas perjalanan udara tanpa menghilangkan fungsi utama awak kabin.
Penyambutan bernuansa budaya juga dilakukan di Bandara Banyuwangi. Penumpang yang tiba disambut penari Gandrung asli dengan iringan musik tradisional khas Banyuwangi. Sejumlah penumpang bahkan tertarik ikut menari, sehingga suasana kedatangan terasa lebih meriah. Ornamen dan poster bertema Gandrung turut menghiasi area bandara untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada pengunjung.
Festival Gandrung Sewu tahun ini mengusung tema Kembang Dermo dan digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Pantai Boom Marina dengan konsep pertunjukan malam Glow in the Dark. Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan pengelola transportasi, budaya Gandrung diperkenalkan sejak wisatawan memulai perjalanan hingga tiba di Banyuwangi. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik pariwisata sekaligus menjaga kesenian tradisional agar semakin dikenal oleh masyarakat luas.
0 Comments